
Kehadiran dan menyebarnya corona virus diseases 2019 (Covid-19) ke hampir
seluruh belahan bumi dunia melahirkan perubahan yang signifikan bagi masyarakat.
Perubahan yang terjadi mnyentuh ranah publik hingga ranah privat, yakni perubahan
dalam bidang kesehatan, ekonomi, sosial, politik hingga aktivitas kemanusiaan. Di bidang
kesehatan, kita melihat dan merasakan secara langsungbagaiman virus ini menjadi
ketakutan dan ancaman bagi kesehatan masyarakat, dapat diamati dari dari banyaknya
jumlah individu yang terpapar virus dan bahkan meninggal akibat virus ini. Sejalan
dengan ini, pola kesehatan masayarakat-pun turut berubah, yang awalnya masayarkat
tidak terlalu peduli pada pola hidup sehat menjadi lebih peduli, seperti pola mencuci
tangan, mengganti baju dan mandi setelah berpergian, menggunakan masker dan lain
sebagainya.
Di bidang ekonomi, kehadiran covid-19 ini kemudian memaksa banyak
perusahaan, kantor, serta usaha-usaha kecil dan menengah yang mau tidak mau harus
menutup sementara usaha mereka. Konsekuensinya, penutupan sementara ini berdampak
pada perekonomian masyarakat, diantaranya pengangguran, berkurangnya pendapatan,
bahkan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Untuk di bidang sosial, perubahan signifikan pun dirasakan langsung oleh
masayarkat, yang mana perubahan ini kemudian memiliki pertalian atau berkorelasi
dengan aspek kehidupan lainnya, seperti aspek pendidikan, pekerjaan hingga agama.
Perubahan kehidupan sosial yang dirasakan nyata adalah aktivitas yang awalnya
dilakukan individu atau kelompok secara tatap muka atau interaksi secara langsung dan
komunalitas, hari ini mau tak mau dipaksa untuk menghindari hal tersebut, dan diganti
dengan aktivitas menggunakan media serta teknologi.
Mulai dari pekerjaan, sekolah hingga aktivitas keagaaman masayarkat dibatasi
guna meminimalisir penyebaran covid. Konsekuensinya, tentu berdampak pada kualitas
interaksi tersebut. Selain itu, adanya covid 19 ini juga mempengaruhi tatanan baru bagi
masayrakat, yakni kebiasaan penereapan protokol kesehatan (menggunakan masker dan
pengukuran suhu tubuh) jika akan beraktivitas di luar rumah dan dengan banyak orang.
Selain menghadirkan perubahan, pandemi juga telah mengajarkan kepada kita
pelajaran yang berharga bagi kehidupan, yakni pelajaran tentang pentingnya menjaga dan
menguatkan solidaritas sosial serta jiwa kemanusiaan saat pandemi ini. Mengapa
demikian? Hal ini tidak dapat dilepaskan dari resiko-resiko yang dihasilkan oleh pandemi
cukup berbahaya bagi individu dan masyarakat. Risiko ini bukan saja berdampak bagi
kesehatan individu, namun risiko psikis hingga sosial terkena resiko dari pandemi.
Ulrich Beck (Sosiolog) melihat bahwa era modernisasi melahirkan perkembangan
dan kemajuan informasi, teknologi dan indusri. Kemajuan ini konsekuensinya akan
memunculkan masyarakat risiko yang merupakan jenis masyarakat yang didalamnya
terdapat banyak risikonya berasal dari industri dan teknologi. Salah satu implikasi dari
masyarakat risiko adalah, risiko yang terjadi tidak mengenal batas tempat dan waktu.
Atau dengan kata lain resiko di satu negara dapat terjadi di negara lain dan dalam waktu
yang panjang
Pada kondisi pandemi, kita dapat melihat bahwa. covid-19 merupakan virus yang
berasal dari Wuhan (China) namun dapat menyebar dengan cepat ke suluruh dunia.
Penyebarannya ini tidak dapat dilepaskan dari kemajuan teknologi akibat modernitas itu
sendiri, kemajuan teknologi yang dimaksud salah satunya kemajuan di bidang
transportasi yang memungkinkan terjadinya mobilitas atau perpindahan individu
(sekaligus perpindahan virus) dari satu negara ke negara lainnya secara cepat.
Konsekuensi dari pandemi ini kemudian melahirkan banyak resiko dalam
masayrakat, yakni: Risiko fisik ekologis yaitu aneka risiko kerusakan fisik pada manusia
dan lingkungannya. Risiko fisik ekologis ini hadir dalam bentuk virus yang mengancam
kesehatan dan lingkungan manusia. Kematian menjadi ancaman besar yang ada pada
risiko fisik ekologis ini. Risiko sosial yaitu tumbuhnya aneka “penyakit sosial”. Kondisi
pandemi, selain memunculkan penyakit fisik juga melahirkan penyakit sosial yang tidak
kalah berbahaya, yakni stigma sosial, ketakpedulian, ketakacuhan, egoisme dan
immoralitas. Resiko psikis, merupakan gangguan-gangguan secara psikis akibat hadirnya
pandemi, seperti uring-uringan, tertekan, hingga depressi akibat hadirnya covid-19.
Resiko sosial dan resiko psikis yang hadir akibat pandemi mengakibat tidak dapat
dianggap remeh, karena kondisi psikis dan sosial juga berpartisipasi terhadap resiliensi
atau daya tahan individu ketika terserang covid-19. Dengan kata lain, jika daya tahan
tubuh dan imun lemah maka berpotensi untuk mengancam jiwa individu. Disisi lain,
risiko sosial dan psikis yang hadir akibat pandemi juga berhubungan dengan risiko jangka
panjang yang akan dihadapi oleh individu, masayarakat dan bangsa.
Risiko jangka panjang yang dapat hadir dari dampak pandemi ini akan
mempengaruhi kualitas manusia dan generasi bangsa. Bagaimana bisa? Mengutip dari
seorang pakar sejarah dunia, Profesor Youval Harari mengatakan bahwa ada ancaman
yang lebih berharga dari ancaman virus coid itu sendiri, yakni kebencian,
ketidakpedulian, bahkan rasisme. Ancaman ini justru akan menghasilkan benih-benih
virus baru yang juga dapat mengancam jiwa manusia. Saat ini, kita telah dan sering
menyaksikan bagaimana pembunuhan-pembunuhan hingga genosida acapkali terjadi
karena persoalan kebencian dan rasisme. Kebencian yang tumbuh subur dalam
masayrakat justru tidak menyehatkan, dia dapat melahirkan kekerasan, diskriminasi
hingga perang.
Oleh karena itu, sudah seharusnya kita tidak membiarkan covid-19 ini justru
menjadi pembunuh ganda bagi masyarakat. Maka, penting bagi masayarakat untuk
menjaga kewarasan dan kemanusian di tengah pandemi. Ada beberapa hal yang dapat
dilakukan untuk menjaga kewarasan dan kemanusiaan, yakni:
Pertama, mengurangi prasangka dan diskriminasi. Prasangka dan diskriminasi
menjadi akar dari munculnya stigma sosial saat pandemi. Mengurangi prasangka dan
diskriminasi itu harus dimulai dari dalam diri sendiri, salah satunya adalah dengan
menyakinkan diri bahwa tidak ada manusia yang kebal atau imun akan terserangnya
covid-19. Sederhananya, menyadari bahwa setiap manusia berpotensi untuk terserang
virus ini menjadi penting, sehingga kita dapat menempatkan posisi ketika menjadi pasien
atau penderita tersebut. Ketika kita mampu menempatkan diri pada posisi pasien, maka
kecil kemungkinan untuk memunculkan stigma-stigma yang cenderung negatif.
Kedua, meningkatkan kemampuan dan literasi informasi. Tidak dapat dipungkiri,
masifnya penyakit sosial yang muncul disebabkan karena masifnya berita simpang siur
yang menyebar dalam masayarakat. Mulai dari berita rasis, berita bohong, hingga berita
yang penuh kebencian menjamur di media sosial. Simpang siurnya berita ini jika tidak
difilter dengan baik maka akan mampu merasuki atau mendoktrin masayrkat, selain itu
simpang siur berita ini juga dapat melahirkan tekanan-tekanan dalam masayrkatt. Maka
penting untuk menyaring berita mana yang akan dipercara sehingga resiko sosial dan
risiko fisik tidak terjadi, salah satunya dengan cara meningkatkan kemampuan literasi
media.
Ketiga, mengaktifkan peran sosialisasi dan pendidikan dalam keluarga. Peran
keluarga menjadi penting dalam mengurangi risiko sosial dan psikir, terlebih ketika
pandemi mengharuskan orang berdiam diri dirumah saja. Maka dari itu, pengawasan dan
peran orang tua dalam mendidik dan meberikan informasi bagi anggota keluarga menjadi
penting. Sebisa mungkin, aktivitas-aktivitas anak dapat diamaati dan diawaasi orang tua,
sehingga risiko penyakit sosial dan penyakit fisik dapat dihindari.
Risiko fisik, sosial dan psikis ini memiliki hubungan yang saling bertalian, oleh
karena itu selain menjaga kesehatan fisik maka di tengah pandemi ini penting pula
menjahga lingkungan sosial dan psikis individu. Dengan kata lain penting menjaga
kewarasan dan kemanusian di tengah pandemi agak risiko jangka pendek dn jangka
panjang akibat pandemi dapat diminimalisir.